Senin, 12 Oktober 2009

Katakan Kepada Anak Lelakimu

Katakan kepada anak lelakimu,tentang perempuan sebenarnya.Tentang perempuan sebagai awal sebuah kehidupan.Tuhan begitu mencintai keindahan,maka Ia menciptakan perempuan dengan segala keindahannya sebagai gerbang manusia menuju alam fana.
Katakan kepada anak lelakimu,bahwa tubuh perempuan sangat indah.Maka perlakukanlah keindahan itu dengan pantas,agar keindahan itu tetap menjadi sebuah keagungan.
Katakan kepada mereka untuk memperlakukan kaum ibu mereka seperti sebuah altar,karena tubuh perempuan adalah altar tempat dimana jiwa bersemayam sebelum terlahir kealam fana.
Apakah kau tau?Keindahan sebenarnya payudara adalah ketika ia disusukan pada bayi dengan penuh kasih,bukan pada saat ia dipamerkan untuk mengundang birahi.Dan vagina bukanlah tempat untuk melakukan eksperimen karena ia ada untuk kehidupan dimana manusia mengawali keberadaannya didunia.
Katakan kepada anak lelakimu,dunia menunggu kalian merubah persepsi tentang keperempuan......

Sabtu, 12 September 2009

Kita Dan Kata

Seperti kata Rendra
Puisi ada untuk dibaca
Seperti seorang bunda
Kita bisa langsung tau kelembutannya
Tapi aku selalu saja tergoda
Oleh lekuk liku kata
Selalu saja kata meminta
Pikiranku menyetubuhinya
Kata melenggok menari
Menggoda nurani
Aku terpikat misteri
Seperti kata Rendra
Puisi ada untuk dibaca
Tapi pernahkah ada salahnya
Kita juga menyetubuhi kata

Mendengar Sepi

Kudengar sepi
Mendobrak hari-hari
Saat tapak semakin panjang
Menambahkan angka-angka
Dihitungan hidup
Apa yang sudah kita buat
Untuk mengisinya
Tau kau
Aku tersengal mengikuti langkahmu
Saat detak jantungmu tak lagi menyatu
Didenyut nadiku
Katakan,kemana tujuanmu!!
Aku terjebak
Kebingunganku

Temani,temani........

Temani,temani aku
Sepi menggaungkan teriakku
Menjadi tak biasa
Pilihan hati terasing diri
Terlalu jauh kuberlari
Hingga kuhanya sendiri
Dimana,dimana kuberdiri
Padang luas tak bertepi
Jadi biasa
Merangkak dijejak terpeta
Berjalan tanpa rasa
Tak tau apa,dimana
Apa aku bisa
Aku tak ingin berbeda
Kalau cuma menjalani
Hidup yang sama

PANDORA

Marah mengais luka
Bertebar bagai kunang-kunang
Digelap lalu
Jelita
Selalu saja satu kata
Menguak kotak pandora
Itu bukan salahku!
Itu salah mereka!!
Masih saja kukenang tawa itu
dengan dua kaki mereka diatas kepalaku
Mengiang
Menghunjam
Makin kukenang
Makin ku mendendam
Marahku kah
Kunci pandora
Jika kulihat wajahmu
Wajah mereka
Terkuak kotak pandora
Menghamburlah luka duka

Senin, 07 September 2009

Ketika Ku Kau

Ketika ku terbangun
Kau masih dimimpimu
Ketika kutertidur
Kau masih mengejar mimpimu
Yang kau perjuangkan egomu
Bukan bahagiaku
Pernahkan ingin kau tanyakan
Apa inginku
Lelah hasrat menggapai
Persepsi bahagia tak tercapai
Berputar diduniamu
Gamang langkahku
Kuharap kita bertemu

Lilin Dan Bintang

Hari-hari seringkali tak berarti
Benarkah?
Untuk ukuran apa dan siapa?
Adakah suatu keharusan
Untuk menjadi bintang diangkasa

Suatu kebijaksanaan ataukah ketololan
Sebatang lilin terbakar untuk penerang
Suluh kegelapan
Pernahkah kau tanyakan
Inginkah lilin menjadi bintang

Jumat, 04 September 2009

Seperti Saat Seperti Dulu

Selamanya bukanlah kata
Yang ingin kujanjikan untukmu
Aku akan slalu berusaha
Setiap hari menyayangmu
Seperti rumput liar disetiap musim
Seperti alis yang slalu tumbuh didahi para gadis

Berbilang hari
Tak selalu indah untuk dilewati
Masihkah bisa kau getarkan cinta
Seperti dulu tanpa prasangka
Saat kadang ku berpaling muka
Saat kadang ku mulai terlupa

Sudahkah kita beranjak dewasa
Menyikapi hidup yang ternyata tak maya
Sambil menggenggam erat
Yang selalu kita sebut cinta
Seperti saat hanya kita bagi berdua
Seperti saat kita remaja

Selasa, 01 September 2009

Ini Adalah Bara

Ini adalah tumpukan bara
Meletus saat tak lagi bisa
Kita menahannya
Bertahun menumpuk duka
Hanya tinggal menunggu waktu saja
Kiranya jika kau ingin
Sedikit saja mau mengerti
Hatiku
Inginku
Tentu mungkin kita tetap bisa bersama
Ini adalah bara
menghanguskan hati hingga tak tersisa
jika pergi adalah cara memadamkannya
bisakah kutahan duka?

Bayi Dan Tikus Got

Ibu malam begini
Kenapa anakmu masih saja dijalan
Sementara bulan sudah hampir pucat
Terkejar matahari
Ibu,diantara pesta pora tikus got anakmu tertidur
Dimana rasamu
Belas kasih bukan milik orang yang kau mintai receh penyambung hidup
Belas kasih milikmu,selimut buatnya saat angin malam
Merajam tulang yang belum kuat benar
Ibu,masih ada hari esok
Bawa anakmu pulang dan tidurkan dirumah
Ia terlihat begitu lelah
masih banyak yang bisa kau kerjakan Bu
Tanpa gunakan anakmu
Sebagai tameng nafkahmu

Minggu, 30 Agustus 2009

Airmata

Airmata,adalah teman setia.Ketika kuharus merasa kesepian saat berlari melawan arah angin.Saat rasa tak lagi tertampung oleh kata.Saat kadang jiwa tak merasa merdeka.Airmata adalah sandaran rasa,saat tak lagi ada bahu tersedia untuk menyandarkan jiwa,dan ketika ku tak tahu harus lari kemana.
Haruskah airmata menjadi satu-satunya kawan yang bisa dipercaya melabuhkan duka.Saat kita tak lagi tau pada siapa harus percaya.Saat kesunyian hadir ditengah keramaian manusia.

Jumat, 28 Agustus 2009

Dehidrasi Dipinggir Sumur

Adzan subuh membuyarkan setan-setan yang tengah merayakan keberhasilan mereka menggoda cakil untuk tidak bangun sahur.Cakil memang kesiangan untuk sahur,itu disebabkan karena Cakil keasyikan mengobrol hingga tengah malam.Ia memang kesiangan untuk sahur,tapi setidaknya ia bisa sholat subuh tepat waktu.
Tengah hari,matahari bersinar tak berbelas kasih.Bahkan awan cumulus yang biasanya ada,pergi entah kemana.Cakil resah,ia merutuki dirinya yang lupa sahur.Bahkan karena terlalu asyik mengobrol setelah tadarus,ia lupa untuk makan.Praktis,hanya semangkok kolak pisang saja yang masuk keperutnya sejak buka magrib kemarin.Cakil lemas.Tapi imannya melarang membatalkan puasa saat itu juga.
Adzan ashar berkumandang,Cakil agak sedikit lega.Beberapa jam lagi adzan magrib berkumandang.Dengan mata berkunang-kunang diseretnya langkah beribu ton batu gunung menuju sumur belakang rumah untuk mengambil air wudlu.Gaung timba yang jatuh kedalam sumur mengisyaratkan 50 m lagi baru timba itu bisa menyentuh dasar air.Cakil tumbang.Dehidrasi dipinggir sumur,wakakakakaka.....ironi.

Rabu, 26 Agustus 2009

Untuk INA

Bulan membatu
Semesta membatu
Terpukau cantik
Indonesiaku
Pantai hutanmu perawan
Menggoda mata
Menjelajah setiap jengkal
Indahmu
Hujan adalah tangis haru para dewa
Atas terciptanya miniatur nirwana
Tegakkan kepalamu
Indonesiaku
Tantang dunia
Jinggamu elok dilazuardi
Tak ada alasan untuk rendah diri
Kebaya hijaumu lingkari katulistiwa
Setidaknya lebih terlihat perkasa
Daripada berjuta beton menjulang angkasa
Menarilah telanjang kaki
Kau cantik tanpa hak tinggi
Lihatlah
Setiap hari bunga mekar berseri
Tanpa tunggu musim semi
Dan padi-padi
Tak perlu diganti dengan roti
Berdirilah indonesiaku
Jangan ragu langkahkan kaki
Kesederhanaanmu jatidiri
Tak perlu ingin
Kau rubah lagi



SELAMAT ULANG TAHUN KE 64,SEMOGA CEPAT SEMBUH DEMI TERCAPAINYA KEMERDEKAAN SESUNGGUHNYA

Sabtu, 15 Agustus 2009

Surat Untuk Kekasih

Malam kekasih...
Kusapa Engkau saat malam perawan
Memeluk erat bumi
Rinduku padaMu
Tak tertampung muara-muara
Dilaut kasihMu
Hanya cinta,membuat tanganMu
Terulur kasih untukku
Sungguh aku fakir
Pada ayat terlafaz untuk memujaMu
Hanya akal meraba kebesaranMu
Dalam setiap tindak
Sungguh,kucerminkan cintaku
Semoga Kau mengertiku
Yang tak mampu memberhalakan agamaMu
Kekasih maafkan aku

Kamis, 13 Agustus 2009

Dimana Ini

Kiranya aku sudah lama tertidur,berisik televisi yg tidak dimatikan dari tadi malam membangunkanku.Berita pagi ini klise seperti berita-berita kemarin.Pembunuhan,korupsi,segala macam berita kriminal khas negara berkembang tersaji di semua stasiun televisi.Berita yg sama dengan gaya pemberitaan yg berbeda.Setiap kupencet remot,serentak semua stasiun tivi menayangkan berita yang sama.Berita kriminal dan infotainmen sudah susah dibedakan.Cukup membuat miris hati siapa saja.
Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yg berbeda jika aku berjalan-jalan keluar rumah.Tapi.woooow,tunggu dulu,dimana ini?Semua wanita yg kulihat diluar rumah nampak serupa.Semua berambut lurus,berkulit putih,persis wanita dalam iklan ditelevisi tadi.Dan.....busana mereka mengingatkanku pada saat aku berusia dibawah lima tahun,lucu dengan rok mini yg jika membungkuk maka akan terlihat sedikit celana dalam yg fancy.Konyolnya bagiku,aku juga tak begitu paham cara bicara mereka.Setahuku gaya bicara model begitu hanya digunakan disuatu daerah bernama Ibu Kota.Oh ya aku lupa,gaya bicara itu mirip sinetron-sinetron kejar tayang di beberapa stasiun televisi,pantas aku kurang memahaminya.Sebab aku tak pernah menontonnya.Ah,aku jadi merasa sedikit malu,kenapa waktuku hanya kugunakan untuk membuka lembar-lembar buku,melahap setiap makna hingga aku lupa,bahwa ada dunia bernama televisi.Coba aku ikut latah mengikuti industri bernama trend.Tentu aku tak merasa seasing ini.Kuamati diriku,celana panjang ini terlihat aneh ditengah rok-rok mini itu.Dan,wuaaaaaa......mereka tak ada yg bersandal jepit sepertiku.Semuanya memakai high heel,stiletto,alas kaki yang bahkan dalam mimpipun aku tak terpikir untuk memakainya.
Aku mulai merasa malu,ketika mata-mata itu memandangku dengan aneh dan tak mengerti,seolah-olah aku makluk asing yang tersesat entah darimana.Aku mulai merasa aku berbeda,aku asing.Dan perasaan itu yang akhirnya memaksaku untuk berlari,lari.......sejauh mungkin.tapi sejauh apapun aku berlari,aku tetap merasa tersesat.Karena dimanapun aku berada,semua pemandangan terlihat sama.Aku mulai merasa putus asa.Menjadi diri sendiri apakah hal yang percuma?Ketika hidup hanya dinilai dari apa yg nampak saja.Apa sebaiknya kurubah diriku mirip seperti mereka?

Selasa, 11 Agustus 2009

Pada Kudus Malam

Malam
Selalukah menakutkan
Mata
Enggan terpejam
Dikudusmu aku merenungkan hari
Berarti
Sudahkah
Tapakku membingungkan
Arus
Tak bertujuan
Mengalir
Membangun mimpi
Hanya untuk dihanyutkan
Asa
Putus
Jalani saja
Statis apa adanya

Noordin......?

Sempat terbersit kegembiraan,ketika sebuah stasiun tv menayangkan penggerebekan yg berakhir dengan penangkapan yg diduga gembong teroris,Noordin.M.Top pada sabtu 8 Agustus 2009.Tapi kegembiraan dan kelegaan itu seketika luntur saat sebagian orang menyangsikan keaslian identitas orang yg diduga Noordin.M.Top,hampir semua orang malah.
Noordin atau bukan Noordin,ini adalah merupakan keberhasilan Densus 88 menggagalkan bencana yg diakibatkan oleh sebuah keyakinan yg salah.Kado kecil untuk HUT kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang.
Seandainya kemudian diketahui orang yg tewas tersebut bukanlah Noordin yg dicari-cari,itu bukanlah sebuah alasan yg cukup untuk menjadikan kita kecewa.Kita masih bisa berbangga,bahwa satu lagi bencana dapat dihindarkan.
Dan apabila memang orang itu bukanlah Noordin,percayalah,hanya soal waktu saja hal itu dapat diungkap.Tuhan tidak tidur,Dia tahu tapi menunggu.

Senin, 10 Agustus 2009

Perempuan Sunyi

Tertatih perempuan itu
Memikul takdir
Dari sepi ke sunyi
Keramaian manusia
Siapa sanggup
Menghapus airmata
Yg jatuh diperutnya
Tercabik hati
Atas penghinatan kehidupan
Menguraikan percaya
Tlah lama terjalin dirambutnya
Tertatih perempuan tercabik
Dikehidupan,bangkit
Memunguti kepingan hati
Mozaik harga diri
Menelan air mata
Perempuan itu
Sanggup menghancurkan karang
Dengan belaian

Minggu, 09 Agustus 2009

TUHAN-TUHAN SEDERHANA

Tuhan-Tuhan dibatas kubah
Mengalun segala puji indah
Soal arti,entah
Tuhan-Tuhan dibatas tembok rumah
Hiasan sulam benang emas megah
Tapi tuhan selalu tertinggal
Dikubah
Ditembok rumah
Menjadi hiasan rak,kekasih laba-laba
Begitu beratkah tuhan
Utk dibawa berjalan
Padahal kalau mau bergandeng tangan
Tentu menyenangkan
Atau
Istimewakah tuhan
Untuk dijadikan pakaian
Hingga selayak lampu kristal
Ringkih indah menyilaukan
Padahal mungkin tuhan sederhana
Bisa dieja makna cinta
Lewat hati,melangkah bersama

Jumat, 07 Agustus 2009

INSOMNIA.........??

Aku tak pernah tau cara merangkai bunga-bunga mimpi
Kecuali bilur-bilur masa lalu
Menyesak dada dalam buncah kecemasan
Menanggalkan kantuk entah dimana

Mr.Sandman mungkin tlah berhenti
Memberiku ilham mimpi
Hingga rasa terkejar detak jam
Berlomba menyentuh tepian fajar

Aku tak tau cara merangkai mimpi
Kecuali dihangat pelukmu
Menghantarkan serenade
Sampai matahari membelaiku